dan hanya satu, Agathie.

Semilir angin timur menjatuhkan daun-daun kuning yang telah mengering. Angin itu menerbangkan dan menjatuhkannya di kolam yang bening. Ditengah taman tampak sekumpulan anak kecil yang sedang asyik bermain bola. Mereka berlari kesana kemari dan sesekali saling mengejek sesama.

Di dekat kolam yang airnya bening, tepat dibawah pohon yang daun-daunnya kering, seorang lelaki remaja yang 47 hari lagi akan genap berusia 18 tahun sedang duduk terpaku. Disandarkan tubuhnya ke pohon itu. Tatap matanya jauh menerawang terbang tinggi menembus lebatnya dedaunan dan terus meninggi hingga ke awan.Tak dipedulikannya suara anak kecil yang meminta ia untuk melemparkan bola yang ada disebelahnya. Tak dihiraukannya 3 burung merpati yang sedang minum dari kolam yang terletak 3 meter didepannya. Pikirannya masih jauh melayang, meloncat dari satu awan ke awan yang lain. Saat adzan Maghrib berkumandang, ia beranjak pulang. Pulang ke salah satu kamar dari belasan kamar yang berdiri pada satu atap.Pulang ke rumah yang antara satu penghuni kamar dan penghuni lainnya hanya tahu sebatas nama.

Selepas sholat maghrib Ia rebahkan tubuhnya diatas kasur. Dilihatnya sekeliling kamar dengan tatapan yang kosong.Pandangannya terhenti ketika melihat sebuah jaket yang tergantung di balik pintu kamarnya. Jaket itu mengingatkannya pada seorang gadis satu sekolah, satu kelas dengannya. Seorang gadis remaja yang elok rupanya serta baik budi pekertinya. Satu-satunya gadis yang bisa menggetarkan hatinya, Agathie namanya.
Jaket itu mengingatkan Ia saat pertama kali bertemu dengan Agathie. Hari itu hari sabtu, Ia berangkat ke sekolah seperti hari-hari biasanya, 3 menit sebelum gerbang sekolah ditutup oleh pak satpam yang selalu memegang pentungan ditangannya. Sesampainya di sekolah Ia langsung menuju ke kelasnya yang terletak dilantai dua. Saat berjalan ditangga, seorang gadis menyapanya dengan suara yang sangat lembut. “maaf mas, ruang kimia 4 itu dimana?” “lantai dua, dua ruangan sebelum perpustakaan.” “oh, makasih ya mas. Maaf udah ganggu.” “oh iya, sama-sama.”
Ia terus melangkahkan kakinya menaiki anak tangga satu per satu dan berusaha bersikap seadanya. Namun dalam hatinya tak dapat ia sangkalkan akan kecantikan gadis tersebut. Bahkan kelembutan bicaranya membuat Ia lupa bahwa ruang kimia 4 itu adalah ruang yang sedang Ia tuju. Ruang itu adalah kelasnya.


Seperti biasanya, ketika sampai dikelas Ia langsung duduk di bangku ketiga yang berada didekat jendela. Belum hilang kekagumannya pada gadis yang baru saja ia temui, kini gadis itu telah berdiri di dekatnya. “mas, boleh aku duduk disini?” “oh ia, tentu saja. Oia, kamu murid baru yah?” “Iya. Kenalin, namaku Agathie.” “Aku Ardi. Kamu pindahan darimana?” “Aku pindahan dari Bojonegoro, soalnya papa dipindahtugaskan disini.”
Dua bulan lamanya mereka saling kenal. Hampir setiap hari mereka berjumpa. Kekaguman yang ada pada hati Ardi kian hari kian bertambah. Bahkan kekaguman itu telah berubah menjadi suatu rasa yang sangat sulit Ia ungkapkan dengan kata-kata.
Sampai akhirnya tiba pada suatu pagi yang cerah. Pada hari itu akan ada ulangan fisika, matematika, kimia, serta bahasa Indonesia. Ardi pergi kesekolah lebih awal dan lebih ceria dari biasanya. Kecerian yang terpancar diwajahnya bukan karena akan adanya rangkaian ulangan. Sama sekali bukan. Keceriaan itu karena tadi malam telah Ia putuskan bahwa hari ini Ia akan mengungkapkan rasa yang ada dalam hatinya pada Agathie. Sesampainya di sekolah Ia percepat langkahnya menuju kelas. Tak sabar Ia untuk segera bertemu dengan Agathie.
Namun ternyata keputusannya telah terlambat. Diatas bangku yang biasa Ia tempati ada sebuah jaket, jaket yang biasa dipakai Agathie. Ardi heran kenapa ada jaket sedang tas dan Agathie tak ada. Didalam saku jaket tersebut ada sepucuk surat. Ardi pun segera mengambil dan membacanya. Dalam surat itu Agathie menuliskan bahwa Ia akan pindah ke Makassar mengikuti orangtuanya dan berharap Ardi mau menerima jaket itu sebagai hadiah darinya. Air mata lelaki remaja itu tak dapat ditahan setelah selesai membaca surat tersebut. Sungguh pedih hatinya karena Ia tak sempat mengutarakan cintanya. Ia sangat benci pada dirinya sendiri yang terlalu lama menyimpan perasaan. Dilewatinya hari itu dengan penuh penyesalan dan penuh tangisan. Sepulang sekolah Ia langsung meratapi keputusaanya didekat kolam yang bening, tepat dibawah pohon yang daun-daunnya kering. Ia sangat benci karena dirinya tak mampu untuk mengatakan, tak mampu tuk mengungkapakan.
Tok..tok..tok.........


“Ardi, ada temanmu”
Bunyi pintu yang diketuk dan suara perempuan paruh baya itu menyadarkan Ardi. Ia masih belum bisa melupakan Agathie. Rasa itu masih tertinggal dihatinya. Karena di hatinya hanya ada satu nama dan hanya satu, Agathie.

Sang Pengunjung

Followers

Mengenai Saya

Foto saya
nothing just hem....
Diberdayakan oleh Blogger.